Senin, 19 September 2011
Ekspresi Sanggi
Alhamdulillah, kita umat Islam telah selesai menunaikan ibadah puasa. Menyambut hari kemenangan. Hari-hari hikmah. Hari-hari perayaan. Sebagai penyair, selalu saja ada perasaan berdesir di hati, sekujur tubuh bergetar, bukan karena spiritualisme ketuhanan saya, tetapi lebih karena spiritualisme lokalitas saya. Berjarak 4 jam dari kota Bandarlampung, saya pulang kampung dengan rasa kangen yang mendalam. Senang bisa bertemu kembali dengan sanak keluarga, namun juga diliputi rasa haru-biru. Setiap tahun, satu-satu, orang-orang Sanggi berpulang. Dan karena spirit lokalitas inilah, saya menulis.
Bahasa Lampung tidak akan punah, karena pewarisnya tetap lestari. Saya optimis dengan bahasa daerah ini, karena ekpresi optimisme tetap ada. Zaman memang berubah, tetapi yang berubah hanya alatnya, medianya, dan perspektifnya berkembang. Wajah-wajah memang silih berganti, tetapi ekspresi dan watak tetap utuh dalam jiwa dan ruh orang-orang Sanggi. Mengapa saya berani menyatakan demikian? Pertama, pertumbuhan ekonomi penduduk yang statis di daerah ini mempertahankan kestatisan ekspresi dan watak. Kedua, pukau sungai semaka (hal yang sangat mistis kami yakini).
Tentu kita sadari bersama, adat dan istiadat masyarakat perkotaan berbeda dengan masyarakat pedesaan. Di kota, nilai-nilai instan dan praktis dijunjung tinggi, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi pesat. Sebagai akibat dari pesatnya pertumbuhan ekonomi masyarakat perkotaan, nilai kontrol lenyap. Kemasabodohan masyarakat tinggi. Kebertetanggaan tidak sampai menyentuh hati. Sebaliknya, dan hampir teracuni, masyarakat Sanggi, menjunjung tinggi nilai tengkhasa, mak bangik, dan taat adat. Nilai-nilai yang diam ditempat tentu lebih abadi ketimbang nilai-nilai yang bergerak. Nilai-nilai nominal mata uang terus bergerak. Nilai emas tidak berubah. Dan manusia, berada pada nilai-nilai yang diam ditempat atau berkecepatan konstan – statis. Dinamika menolak kestatisan sehingga istilah-istilah yang berhubungan dengan kata “percepatan” bermunculan. Percepatan pembangunan, percepatan pertumbuhan ekonomi, dan sebagainya. Sebab itulah mengapa bangsa ini tidak pernah maju, karena terus-terusan berdinamika. Berdinamika politik, berdinamika dalam hukum, berdinamika dalam perdebatan, dan berdinamika dalam agama. Saya rasa, musyawarah dan mufakat telah lenyap, karena musyawarah dan mufakat, berada dalam nilai yang statis. Sebab itulah, persoalan-persoalan di desa (yang menjadi urusan warga desa) lebih cepat selesai ketimbang urusan warga kota. Prinsip kegotongroyongan menjunjung tinggi nilai statis ini, entah implementasinya. Berpercepatan memiliki konsekuensi logis, naik-turun, rapat-renggang. Post-Modernisme, ditandai dengan berdinamika ini. Sedangkan era baru, ditandai dengan kestatisan.
Meskipun demikian, wacana lokalitas, adalah hal pokok yang menjadi pemikiran saya. Apa sumbangsih lokalitas terhadap bangsa ini harus kita perhitungkan. Nilai lokalitas inilah yang mempertahankan humanisme bangsa kita yang besar.
Kembali kepada kemanusiaan, dan bagaimana kembali, inilah yang menjadi pemikiran saya. Sebagai perantau, yang hidup di hiruk-pikuk perkotaan. Kemacetan dan waktu yang sistemik. Saya akhirnya, pulang kampung, dan beristirahat. Bangsa ini sebaiknya beristirahat, dan pulang kampung. Tetapi apa yang terjadi, diluar dugaan saya. Rutinitas pulang kampung, identik dengan temu-kangen, cipika-cipiki, dan bukan ziarah. Mungkin saya mengeneralisasi? Walau pun hanya riak-riak kecil pernyataan ini, tetapi pemikiran ini sebagai antisipasi bagi saya. Sungguh tak logis bagi saya, setiap tahun, istilah arus mudik – arus balik, adalah arus yang tak jelas yang mana hulu dan yang mana hilir. Keterburu-buruan, kekhawatiran terhadap waktu yang sistemik (harus segera bekerja kembali), bahkan kedua hal tersebut sampai pada urusan cinta, sungguh menyebalkan dan membuat banyak perantau di kampung ini bersedih, dan berusaha untuk dapat kembali pulang karena keterpukauan terhadap kampung. Statis.
Tidak ada yang berubah di kampung ini, jika saya boleh mengatakannya demikian. Perkataan ini mengalir begitu saja setelah saya memandangi ekspresi wajah satu-persatu masyarakat yang tetap bertahan hidup di tanah ini. Terutama ekspresi anak-anak. Saya melihat suatu ekspresi masa depan. Suatu ekspresi kelestarian. Anak-anak yang fasih berbahasa Lampung. Anak-anak dengan gestur pemenyin. Ekspresi anak-anak yang murni. Ekspresi pemberontak terhadap ketidakadilan. Ekspresi pembunuh terhadap tanah yang telah dirusak. Ekspresi yang sama ketika kami seperti mereka, anak-anak. Inilah Sanggi, menyimpan sejarah yang dalam, yang entah siapa akan mengangkatnya kepermukaan. Saya hanyalah suara dari ekspresi ini. Tabik.
Sabtu, 12 Juni 2010
Catatan Masriful Hailly: Cekhita 7 Ketukhunan Tunggal
http://www.facebook.com/#!/notes/masriful-hailly/cekhita-7-ketukhunan-tunggal/126241664075552
BagikanJumat pukul 19:45
Diunggah melalui Facebook Seluler
Luah jak SEKALA BEKHAK bakhong tian pak, RAJA MARILANG & RATU MARILANG PUTIH singgah di suwoh, sedangkon RATU MANDUKHANG & NAPALIYUT, medoh mit di semaka/gunungdoh. Di semaka/gunungdoh tungga BAJU TENUN (anak tumi) lagi merentes munih di tanoh pappahan gunungdoh, di ajak RATU MANDUKHANG sebagi tanoh pappahan, ia (baju tenun) mak haga kantu hani: ki mayat ku di langkah mit akuk dimmu unyin. ya wat ni pekhang tanding RATU MANDUKHANG melawan BAJU TENUN, khadu sedong beni ni mak ngedok sai kalah astawa katan. Luwah cawa ni BAJU TENUN: ki niku haga ngematiko nyak, nyak mak mati ulih ni besi kantu sipok kon BAMBAN MAK BU 'AWAN BUKHUNG MAK BUKEPI. Ya di sipok kon RATU MANDUKHANG "BAMBAN BUKHUNG", sekhadu ngena di sipok ni BAJU TENUN tungga ia lagi melawai, sedongkon KHATU MANDUKHANG haga magas ni belinduk di paku PUPPUK.
Di pagas ni BAJU TENUN kena ulu hati ni sedangkon semangkung melepas napas terakhir luwah cawa ni (sumpah BAJU TENUN) terhadap KHATU MANDUKHANG:
=> " pitu ketukhunan anak umpu mu ketukhunan tunggal"
Sedangkon sumpah KHATU MANDUKHANG:
=> "pitu ketukhunan anak umpu ku mak mingan nganik paku puppuk".
7 ketukhunan tunggal
=> NAGA NGAGITOKH
=> RAJA NGAGITOKH
=> RAJA NGUMBAR 1
=> GEDE BATIN
=> NGINTAH BATIN
=> RADEN LIYU
=> RAJA NGUMBAR 2
NB: KHATU MANDUKHANG (anak anjak RAJA MAKDUM SAKTI )
Di pagas ni BAJU TENUN kena ulu hati ni sedangkon semangkung melepas napas terakhir luwah cawa ni (sumpah BAJU TENUN) terhadap KHATU MANDUKHANG:
=> " pitu ketukhunan anak umpu mu ketukhunan tunggal"
Sedangkon sumpah KHATU MANDUKHANG:
=> "pitu ketukhunan anak umpu ku mak mingan nganik paku puppuk".
7 ketukhunan tunggal
=> NAGA NGAGITOKH
=> RAJA NGAGITOKH
=> RAJA NGUMBAR 1
=> GEDE BATIN
=> NGINTAH BATIN
=> RADEN LIYU
=> RAJA NGUMBAR 2
NB: KHATU MANDUKHANG (anak anjak RAJA MAKDUM SAKTI
Rabu, 24 Februari 2010
TIGA SAJAK IKUT KRAKATAU AWARD 2009
Sajak Oky Sanjaya
YULIYA
nai1, yuliya yang kubangun dulu adalah kayu tenam
yang bila kau rendam dalam ham berpuluh-puluh tahun
takkan ngebubbuk2 dan jadi sarang kumbang.
yuliya yang bila kau tebas batangnya seperti menebas
bayanganmu sendiri saat bulan benar-benar di badan.
saat benar bahwa yang kami cari itu adalah bulambanan3.
nai, yuliya yang kubangun dulu adalah seikat jawan4
seikat ingatan yang bila kelak tiba kau bakar akan
melahirkan kopi dan temajjak5 pisang. Hidup yang diam dan
perlahan membiarkan mamak6 dan minan7 nyenyak sejenak
setelah selesai sesambaian8. Membiarkan pagi tak begitu
cepat hilang santai.
nai, yuliya yang kubangun dulu adalah segenggam khappai9,
setengah bungkus dilan temanggang, khik pitu cabi lunik10.
yuliya yang bila kau giling dalam biduk cukuplah hari-hari
tunduk dan takluk. Cukup untuk pasti menutup
pintu-pintu ke arah huma, pintu-pintu ke arah lada:
nai, kapan kita putungga?11
1= nai (mekhanai) =jang (bujang)
2= menyerbuk=membubuk (pada kayu)
3= berumah tangga
4= kayu baker
5= rebus
6= paman
7= bibi
8= berkumpulnya bujang dan gadis sebelum atau saat malam tikuk dalam adat perkawinan Lampung. Di acara tersebut, mekhanai (bujang), memperkenalkan diri ke muli (gadis) yang ditaksir. Bisa diartikan sebagai: “malam dagang muli.”
9= rampai (tomat)
10= terasi panggang,dan tujuh cabai rawit
11= nai, kapan kita bertemu?
DI ATAS LANTAI PAKAIAN IBU
adikku, di atas lantai pakaian ibu kita
belajar bersama, bertengkar sebagai anjing
anjing pakaian. Kita belajar sakit dari
gigit, cakar, congkel, dorong, dan tarik
dari setiap peristiwa tengkar, dari setiap
rebut sabar. Kita belajar memaknai
alir puting susu, urat ibu anggap kandung
dan perihal bapak yang terselubung
dalam mata sarat timbang duduk timang.
adikku, kita selalu membayangkan
mampu bebas melihat purnama tanpa harus
di punggung mamak1 dan minan2, kita
selalu membayangkan rumah panggung
adalah ujung pengembaraan. Ujung setia
pada ilmiah, pada kronologis, dan cinta
kemilau tapis3. Kita membayangkan,
suatu saat, giliran kita yang berteriak
dalam setiap petak-umpet malam hari.
suatu saat, adikku, kita membayangkan
jadi penurut pada panglima malam abdi.
1= paman
2= bibi
3= kain tradisional Lampung. Corak dari tapis disulam dari benang emas.
MANUSIA API
1
tak ada rumah yang tersisa, pekon1 yang kini
telah berubah menjadi sawah. Dan sulit bagiku mengerti
bahwa dulu pernah ada banjir yang memecah pekon jadi
lima penjuru jaga; di Titian Batu, di Bukit Kerupang,
di Tepi Hilian Sungai, di Bukit Pinjauan, dan di Pekon
Sanggi. Yang kupahami ada bubandung2 dalam diriku, ada
lada dalam jiwaku. Dan membunuh, suatu waktu, mungkin
akan kulakukan untuk menjaga pekon ini dari perubahan,
dari pengertian, dan dari penerimaan. Seperti itulah
aku harus hidup, seperti itulah kami harus hidup:
membunuh yang asing bagi kami.
kami yakin Tuhan ada dalam jiwa kami. Kami dengar
deru kali. Kami rasakan perih di mata saat kami benamkan
kepala kami di Sungai Semaka. “Yang memang, kelak,
kepala kami mengapung dan hilang di sana.”
kami rasakan angin dari teluk itu, Teluk Semaka.
kami mengenal Tuhan di atas perahu itu. Satusatu
kami berikan kepala kami untukNya. Dan kami tak bosan,
dan kami tak punya keluh, dan kami tak lagi sedih.
sebab kami jugalah bujang dan gadis yang dimabuk cinta
di atas perahu. “Mengan di datas jukung, tutuk adat,
tutuk burasan.”3
Tuhan kami adalah pecinta dan pembunuh.
begitulah, saudara, meski dilahirkan buta, aku
telah biasa memahami keadaan, berangkat dan pulang ke
sawah ini; di mana letak sawah milikku dan di mana letak
sawah milik orang lain. Dan bisa aku rasakan persawahan
ini cukup luas.
bagiku keindahan sawah tak hanya pada saat padi
mulai hijau tua atau pada saat padi mulai menguning,
tapi pada saat aroma lumpur kau cium. Dan akan kau
rasakan kesunyian itu. Kecipak air yang menggenang ini.
aku juga yakin bahwa yang sedang kugenggam ini adalah
kuol mas4, yang selalu orang-orang menyebutnya
begitu. Tapi cangkang, tetaplah sesuatu yang juga dapat berubah.
Maka jangan juga kau salahkan aku, bila aku mengatakan
dia lumpur, dan remuk, bila, setelah terkena mata cangkulku.
dan sekarang, marilah kuajak kau meniti penopon5
ke tengah persawahan. Seperti yang kau lihat sendiri,
di situlah kubangun anjung. Letaknya yang menurutku
pol6, maka jangan pulalah kau gusar bila merasa terbenam
pandang.
2
aku telah sungkan menjadi tuan di tanah ini,
telah terbiasa tak bergetar tangan, telah pukau pada
silau cahaya zuhur, telah maru pada bukit serupa gunung.
telah mampus pada arus sungai keruh,( awi hapus)7, dan
kain pembungkus badan. Apakah pakaian-pakaian
juga telah lenyap seperti kampung – sawahbukitpumatang?
aku telah sungkan pada badan – berekor siluman.
aku telah sungkan pada badan – bergigi tikus (punyimbang)8.
adakah rumah selain perempuan?
aku telah sungkan menjadi tuan di (tanoh)9mu, Pun10!
Mungkin yang engkau maksud adalah gunung tanggamus11,
yang di kakinya mengalir air sedingin embun pada waktu
pagi dan petang. Sebelum pisau terasah di batu; sekedar
mencerna desau di insang ikan. Apakah mungkin palau12
muncul dari perut gunung?
tengoklah bangkai daun yang tersangkut di celah
bebatu yang kerontang dalam air, padanyalah terdapat api – reaksi.
1 = kampung
2 = satu dari banyak sastra lisan Lampung isi dari tuturnya meriwayatkan
perjalan hidup seseorang.
3 = “makan di atas perahu, berikut adat, berikut cinta,”
4 = keong mas
5 = tepi batas petakan sawah
6 = pas = mantap = sesuai
7 = bambu lapuk
8 = penyeimbang adat = penyusun undang-undang adat
9 = tanah
10 = tutur kepada anak saibatin paling tua dan sebaya. Bapaknya
ditutur pengikhan. Setelah anaknya naik tahta, kita yang sebaya dengannya
tetap memanggilnya Pun sedangkan anak kita menuturnya pengikhan.
11 = gunung yang ada di Kab. Tanggamus. Mulai terlihat dari sepanjang jalan Kec.
Talang Padang sampai pesisir Way Nipah dan Perbukitan Sedayu.
12 = ikan yang dianggap mistis masyarakat pesisir Semaka. Mistis tersebut dikarenakan
penampakan ikan tersebut secara tiba-tiba pada orang-orang tertentu. Gara-gara
penampakan inilah orang Lampung mulai membuat bubu, khunju (anyaman dari
bambu tempat meletak ikan). Selain pawang harimau, pawang buaya, pawang napuh
(kancil), pawang kijang, pawang gajah, ada juga pawang khusus iwa palau ini.
Hanya orang-orang tertentu yang dapat menangkapnya. Generasi sebelum bapak
saya sempat tahu rupa iwa tersebut dikarenakan pada zaman itu masih ada yang
mewarisi “pawang iwa palau”. Namun setelah garis waris pawang putus iwa palau
semakin misteri bagai masyarakat pesisir Semaka. Dalam kita kuntara raja niti telah
disebutkan hal lain arti penting ikan bagi masyarakat Lampung pesisir Semaka.
Dalam acara adat ikan adalah menu penting yang harus hadir dalam mi pangan (mi
yang harus dibayarkan oleh masyarakat ke pihak saiful hajat}. Begitu pula dalam acara
makan di atas perahu yang telah punah itu; acara makan-makan bujang-gadis untuk
mengenang bujang atau gadis yang telah menjadi tumbal untuk kemakmuran desa.
Oky Sanjaya, lahir di Pekon Sanggi, Kabupaten Tanggamus, Lampung, 13 Oktober 1988. Mulai menulis sajak secara serius ketika duduk di kelas XII SMA. Beberapa sajaknya terbit di Lampungpost. Kini selain belajar di FKIP PMIPA Fisika Unila Semester VII, Oky Sanjaya bersama Yayasan Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL) melakukan studi etnografi dari Liwa, pesisir Krui, sampai pesisir Semaka.
YULIYA
nai1, yuliya yang kubangun dulu adalah kayu tenam
yang bila kau rendam dalam ham berpuluh-puluh tahun
takkan ngebubbuk2 dan jadi sarang kumbang.
yuliya yang bila kau tebas batangnya seperti menebas
bayanganmu sendiri saat bulan benar-benar di badan.
saat benar bahwa yang kami cari itu adalah bulambanan3.
nai, yuliya yang kubangun dulu adalah seikat jawan4
seikat ingatan yang bila kelak tiba kau bakar akan
melahirkan kopi dan temajjak5 pisang. Hidup yang diam dan
perlahan membiarkan mamak6 dan minan7 nyenyak sejenak
setelah selesai sesambaian8. Membiarkan pagi tak begitu
cepat hilang santai.
nai, yuliya yang kubangun dulu adalah segenggam khappai9,
setengah bungkus dilan temanggang, khik pitu cabi lunik10.
yuliya yang bila kau giling dalam biduk cukuplah hari-hari
tunduk dan takluk. Cukup untuk pasti menutup
pintu-pintu ke arah huma, pintu-pintu ke arah lada:
nai, kapan kita putungga?11
1= nai (mekhanai) =jang (bujang)
2= menyerbuk=membubuk (pada kayu)
3= berumah tangga
4= kayu baker
5= rebus
6= paman
7= bibi
8= berkumpulnya bujang dan gadis sebelum atau saat malam tikuk dalam adat perkawinan Lampung. Di acara tersebut, mekhanai (bujang), memperkenalkan diri ke muli (gadis) yang ditaksir. Bisa diartikan sebagai: “malam dagang muli.”
9= rampai (tomat)
10= terasi panggang,dan tujuh cabai rawit
11= nai, kapan kita bertemu?
DI ATAS LANTAI PAKAIAN IBU
adikku, di atas lantai pakaian ibu kita
belajar bersama, bertengkar sebagai anjing
anjing pakaian. Kita belajar sakit dari
gigit, cakar, congkel, dorong, dan tarik
dari setiap peristiwa tengkar, dari setiap
rebut sabar. Kita belajar memaknai
alir puting susu, urat ibu anggap kandung
dan perihal bapak yang terselubung
dalam mata sarat timbang duduk timang.
adikku, kita selalu membayangkan
mampu bebas melihat purnama tanpa harus
di punggung mamak1 dan minan2, kita
selalu membayangkan rumah panggung
adalah ujung pengembaraan. Ujung setia
pada ilmiah, pada kronologis, dan cinta
kemilau tapis3. Kita membayangkan,
suatu saat, giliran kita yang berteriak
dalam setiap petak-umpet malam hari.
suatu saat, adikku, kita membayangkan
jadi penurut pada panglima malam abdi.
1= paman
2= bibi
3= kain tradisional Lampung. Corak dari tapis disulam dari benang emas.
MANUSIA API
1
tak ada rumah yang tersisa, pekon1 yang kini
telah berubah menjadi sawah. Dan sulit bagiku mengerti
bahwa dulu pernah ada banjir yang memecah pekon jadi
lima penjuru jaga; di Titian Batu, di Bukit Kerupang,
di Tepi Hilian Sungai, di Bukit Pinjauan, dan di Pekon
Sanggi. Yang kupahami ada bubandung2 dalam diriku, ada
lada dalam jiwaku. Dan membunuh, suatu waktu, mungkin
akan kulakukan untuk menjaga pekon ini dari perubahan,
dari pengertian, dan dari penerimaan. Seperti itulah
aku harus hidup, seperti itulah kami harus hidup:
membunuh yang asing bagi kami.
kami yakin Tuhan ada dalam jiwa kami. Kami dengar
deru kali. Kami rasakan perih di mata saat kami benamkan
kepala kami di Sungai Semaka. “Yang memang, kelak,
kepala kami mengapung dan hilang di sana.”
kami rasakan angin dari teluk itu, Teluk Semaka.
kami mengenal Tuhan di atas perahu itu. Satusatu
kami berikan kepala kami untukNya. Dan kami tak bosan,
dan kami tak punya keluh, dan kami tak lagi sedih.
sebab kami jugalah bujang dan gadis yang dimabuk cinta
di atas perahu. “Mengan di datas jukung, tutuk adat,
tutuk burasan.”3
Tuhan kami adalah pecinta dan pembunuh.
begitulah, saudara, meski dilahirkan buta, aku
telah biasa memahami keadaan, berangkat dan pulang ke
sawah ini; di mana letak sawah milikku dan di mana letak
sawah milik orang lain. Dan bisa aku rasakan persawahan
ini cukup luas.
bagiku keindahan sawah tak hanya pada saat padi
mulai hijau tua atau pada saat padi mulai menguning,
tapi pada saat aroma lumpur kau cium. Dan akan kau
rasakan kesunyian itu. Kecipak air yang menggenang ini.
aku juga yakin bahwa yang sedang kugenggam ini adalah
kuol mas4, yang selalu orang-orang menyebutnya
begitu. Tapi cangkang, tetaplah sesuatu yang juga dapat berubah.
Maka jangan juga kau salahkan aku, bila aku mengatakan
dia lumpur, dan remuk, bila, setelah terkena mata cangkulku.
dan sekarang, marilah kuajak kau meniti penopon5
ke tengah persawahan. Seperti yang kau lihat sendiri,
di situlah kubangun anjung. Letaknya yang menurutku
pol6, maka jangan pulalah kau gusar bila merasa terbenam
pandang.
2
aku telah sungkan menjadi tuan di tanah ini,
telah terbiasa tak bergetar tangan, telah pukau pada
silau cahaya zuhur, telah maru pada bukit serupa gunung.
telah mampus pada arus sungai keruh,( awi hapus)7, dan
kain pembungkus badan. Apakah pakaian-pakaian
juga telah lenyap seperti kampung – sawahbukitpumatang?
aku telah sungkan pada badan – berekor siluman.
aku telah sungkan pada badan – bergigi tikus (punyimbang)8.
adakah rumah selain perempuan?
aku telah sungkan menjadi tuan di (tanoh)9mu, Pun10!
Mungkin yang engkau maksud adalah gunung tanggamus11,
yang di kakinya mengalir air sedingin embun pada waktu
pagi dan petang. Sebelum pisau terasah di batu; sekedar
mencerna desau di insang ikan. Apakah mungkin palau12
muncul dari perut gunung?
tengoklah bangkai daun yang tersangkut di celah
bebatu yang kerontang dalam air, padanyalah terdapat api – reaksi.
1 = kampung
2 = satu dari banyak sastra lisan Lampung isi dari tuturnya meriwayatkan
perjalan hidup seseorang.
3 = “makan di atas perahu, berikut adat, berikut cinta,”
4 = keong mas
5 = tepi batas petakan sawah
6 = pas = mantap = sesuai
7 = bambu lapuk
8 = penyeimbang adat = penyusun undang-undang adat
9 = tanah
10 = tutur kepada anak saibatin paling tua dan sebaya. Bapaknya
ditutur pengikhan. Setelah anaknya naik tahta, kita yang sebaya dengannya
tetap memanggilnya Pun sedangkan anak kita menuturnya pengikhan.
11 = gunung yang ada di Kab. Tanggamus. Mulai terlihat dari sepanjang jalan Kec.
Talang Padang sampai pesisir Way Nipah dan Perbukitan Sedayu.
12 = ikan yang dianggap mistis masyarakat pesisir Semaka. Mistis tersebut dikarenakan
penampakan ikan tersebut secara tiba-tiba pada orang-orang tertentu. Gara-gara
penampakan inilah orang Lampung mulai membuat bubu, khunju (anyaman dari
bambu tempat meletak ikan). Selain pawang harimau, pawang buaya, pawang napuh
(kancil), pawang kijang, pawang gajah, ada juga pawang khusus iwa palau ini.
Hanya orang-orang tertentu yang dapat menangkapnya. Generasi sebelum bapak
saya sempat tahu rupa iwa tersebut dikarenakan pada zaman itu masih ada yang
mewarisi “pawang iwa palau”. Namun setelah garis waris pawang putus iwa palau
semakin misteri bagai masyarakat pesisir Semaka. Dalam kita kuntara raja niti telah
disebutkan hal lain arti penting ikan bagi masyarakat Lampung pesisir Semaka.
Dalam acara adat ikan adalah menu penting yang harus hadir dalam mi pangan (mi
yang harus dibayarkan oleh masyarakat ke pihak saiful hajat}. Begitu pula dalam acara
makan di atas perahu yang telah punah itu; acara makan-makan bujang-gadis untuk
mengenang bujang atau gadis yang telah menjadi tumbal untuk kemakmuran desa.
Oky Sanjaya, lahir di Pekon Sanggi, Kabupaten Tanggamus, Lampung, 13 Oktober 1988. Mulai menulis sajak secara serius ketika duduk di kelas XII SMA. Beberapa sajaknya terbit di Lampungpost. Kini selain belajar di FKIP PMIPA Fisika Unila Semester VII, Oky Sanjaya bersama Yayasan Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL) melakukan studi etnografi dari Liwa, pesisir Krui, sampai pesisir Semaka.
Jumat, 28 Agustus 2009
DI ATAS LANTAI PAKAIAN IBU
adikku, di atas lantai pakaian ibu kita
belajar bersama, bertengkar sebagai anjing
anjing pakaian. Kita belajar sakit dari
gigit, cakar, congkel, dorong, dan tarik
dari setiap peristiwa tengkar, dari setiap
rebut sabar. Kita belajar memaknai
alir puting susu, urat ibu anggap kandung
dan perihal bapak yang terselubung
dalam mata sarat timbang duduk timang.
adikku, kita selalu membayangkan
mampu bebas melihat purnama tanpa harus
di punggung mamak dan minan, kita
selalu membayangkan rumah panggung
adalah ujung pengembaraan. Ujung setia
pada ilmiah, pada kronologis, dan cinta
kemilau tapis. Kita membayangkan,
suatu saat, giliran kita yang berteriak
dalam setiap petak-umpet malam hari.
suatu saat, adikku, kita membayangkan
jadi penurut pada panglima malam abdi.
belajar bersama, bertengkar sebagai anjing
anjing pakaian. Kita belajar sakit dari
gigit, cakar, congkel, dorong, dan tarik
dari setiap peristiwa tengkar, dari setiap
rebut sabar. Kita belajar memaknai
alir puting susu, urat ibu anggap kandung
dan perihal bapak yang terselubung
dalam mata sarat timbang duduk timang.
adikku, kita selalu membayangkan
mampu bebas melihat purnama tanpa harus
di punggung mamak dan minan, kita
selalu membayangkan rumah panggung
adalah ujung pengembaraan. Ujung setia
pada ilmiah, pada kronologis, dan cinta
kemilau tapis. Kita membayangkan,
suatu saat, giliran kita yang berteriak
dalam setiap petak-umpet malam hari.
suatu saat, adikku, kita membayangkan
jadi penurut pada panglima malam abdi.
Sabtu, 07 Februari 2009
Wacana: Rancage, Sastra, dan Budaya Lampung
Minggu, 8 Februari 2009
APRESIASI
TAHUN yang lalu, Hadiah Sastra Rancage juga diberikan kepada sastrawan yang menerbitkan buku dalam bahasa Lampung. Ternyata seperti yang kami khawatirkan, usaha penerbitan dalam bahasa Lampung itu tidak dapat dilaksanakan secara kontinu. Dalam 2008, tak ada buku yang terbit dalam bahasa Lampung, sehingga untuk Hadiah Sastra Rancage 2009 hadiah untuk bahasa Lampung tidak dapat diberikan.
Kekhawatiran seperti itu sebenarnya wajar karena penerbitan buku bahasa ibu dalam bahasa Sunda, Jawa, dan Bali juga--walaupun ada saja yang terbit setiap tahun--bukanlah usaha yang menjanjikan hari depan secara bisnis. Karena itu ketika beberapa waktu yang lalu kami diberitahu bahwa ada buku yang terbit dalam bahasa Madura, kami tidak segera menyambutnya dengan menyediakan Hadiah Sastra Rancage buat pengarang dalam bahasa Madura. Kami khawatir terjadi lagi apa yang sudah terjadi dengan bahasa Lampung.
(Petikan Keputusan Hadiah Sastra Rancage 2009 yang ditandatangani Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi).
Dan, lonceng kematian (semoga sementara) itu berbunyi: Hadiah Sastra Rancage 2009 untuk Lampung tidak diberikan kepada pengarang Lampung. Saya sungguh terpukul dengan kabar buruk ini. Dalam bahasa Irfan Anshory, ulun Lampung yang kini tinggal di Bandung, "Malu kita!"
Untungnya Sekretaris Yayasan Kebudayaan Rancage sedikit memberikan hiburan dengan mengatakan, jika ada terbitan buku sastra berbahasa Lampung terbit 2008, bisa diikutkan Rancage 2010. Dia berharap kesalahan teknis ini tidak mengganggu kontinuitas penerbitan sastra Lampung.
Lalu, saya pun tenggelam dalam dunia idealisasi bagaimana seharusnya mengembangkan sastra berbahasa Lampung. Buku Mak Dawah Mak Dibingi (BE Press, 2007) dan Hadiah Sastra Rancage 2008 sebenarnya hanyalah pintu masuk saja bagi sebuah upaya memperjuangkan keberadaan bahasa dan sastra Lampung. Setelah ini, para seniman (sastrawan) Lampung dalam arti sastrawan yang menggunakan bahasa Lampung sebagai media kreativitasnya, harus tetap berupaya melahirkan karya-karya sastra berbahasa Lampung. Minimal dua dalam setahun.
Saya sangat berharap setelah Hadiah Sastra Rancage 2008 diberikan kepada sastra Lampung, kehidupan sastra berbahasa Lampung semakin bertambah dinamis. Paling tidak, ada semacam kebangkitan sastra berbahasa Lampung seiring dengan tumbuhnya "kepercayaan diri" penutur bahasa Lampung bahwa ternyata bahasa Lampung bisa bergaya, bahasa Lampung bisa berdaya, dan bahasa Lampung bisa modern. Bahwa bahasa Lampung bisa menjadi media ekspresi imajinatif-kreatif, sehingga bisa melahirkan karya sastra sebagaimana bahasa-sastra Sunda, Jawa, dan Bali.
Sejak awal--katakanlah semenjak terbitnya buku puisi dwibahasa Lampung-Indonesia, Momentum (2002)--sebenarnya saya mengajak orang Lampung untuk menulis sastra dalam bahasa ibunya: bahasa Lampung. Tapi, betapa sulitnya karena kebanyakan orang Lampung (bersuku Lampung), terutama kaum muda justru sulit berbicara bahasa Lampung. Berbicara saja susah, apalagi hendak menjadi penulis sastra berbahasa Lampung.
Yang terjadi kemudian adalah betapa orang Lampung semakin gencar mementaskan sastra (tradisi) lisan Lampung. Berbagai proyek pun digelar semacam pelatihan sastra lisan Lampung. Saya sih setuju saja, tetapi saya hanya menyayangkan para seniman Lampung lebih asyik-masyuk dengan tradisi kelisanan itu. Ada juga yang mendokumentasikan sastra tradisi lisan itu dalam bentuk rekaman atau buku.
Namun, tradisi kepenulisan sastra berbahasa Lampung tak bergerak-gerak juga. Dengan latar itulah, saya menulis dengan bahasa Lampung. Setidaknya, ini sebuah upaya saja agar bahasa Lampung tak benar-benar terkubur.
Sebenarnya tidak ada kendala dalam menulis karya sastra Lampung. Masalahnya lebih terkait dengan masalah komitmen untuk--sebenar-benarnya--mengembangkan bahasa-sastra-budaya Lampung. Mana bisa membangun bahasa-sastra-budaya Lampung dengan sikap yang kelewat pragmatis, materialistis, serta penuh dengan perhitungan untung-rugi atau dengan mental "saya harus mendapatkan sesuatu kerja ini".
Wah, menerbitkan buku sastra berbahasa Lampung itu dijamin rugi. Tapi, dalam jangka panjang buku sastra Lampung itu mempunyai nilai strategis bagi perjalanan bahasa-budaya Lampung itu. Tapi, kebanyakan kita tidak mau berpikir ke arah sana.
Saya berharap bahasa Lampung tetap eksis, berkembang, dan mampu menjadi bahasa kreasi bagi penuturnya. Saya yakin bisa asal ada upaya yang sungguh-sungguh untuk menjaga, melestarikan, memberdayagunakan, dan membuat bahasa Lampung lebih bergengsi. Sebab, bahasa Lampung adalah penopang utama kebudayaan Lampung. Kalau bahasa Lampung punah jelas pula yang disebut kebudayaan Lampung kiamat.
Yayasan Kebudayaan Rancage memutuskan memberikan penghargaan kepada sastra Lampung tahun 2008 dengan harapan agar kehidupan sastra (berbahasa) Lampung menjadi lebih dinamis. Setelah Hadiah Sastra Rancage 2008 diberikan kepada Mak Dawah Mak Dibingi, tidak bisa tidak setiap tahun harus ada buku sastra Lampung yang masuk penilaian Rancage. Sebab, sejak 2008 Yayasan Kebudayaan Rancage akan rutin memberikan Hadiah Rancage untuk sastra empat bahasa Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung. Dengan kata lain, tidak ada pilihan lain, Lampung harus menerbitkan buku sasta Lampung minimal dua buku satu tahun. Tidak boleh putus.
Karena itu, pemda, penerbit buku, perguruan tinggi, usahawan, sastrawan, dan masyarakat Lampung harus benar-benar mau menyisihkan waktu, tenaga, dan dana untuk membangun tradisi baru bahasa dan sastra Lampung: menulis dan menerbitkan sastra Lampung!
Saya masih berharap masih ada "orang gila" dalam arti mau menerbitkan buku sastra Lampung dengan segala risikonya. Saya tengah menanti!
Udo Z. Karzi, bukunya Mak Dawah Mak Dibingi (2007) menerima Hadiah Rancage 2008
APRESIASI
TAHUN yang lalu, Hadiah Sastra Rancage juga diberikan kepada sastrawan yang menerbitkan buku dalam bahasa Lampung. Ternyata seperti yang kami khawatirkan, usaha penerbitan dalam bahasa Lampung itu tidak dapat dilaksanakan secara kontinu. Dalam 2008, tak ada buku yang terbit dalam bahasa Lampung, sehingga untuk Hadiah Sastra Rancage 2009 hadiah untuk bahasa Lampung tidak dapat diberikan.
Kekhawatiran seperti itu sebenarnya wajar karena penerbitan buku bahasa ibu dalam bahasa Sunda, Jawa, dan Bali juga--walaupun ada saja yang terbit setiap tahun--bukanlah usaha yang menjanjikan hari depan secara bisnis. Karena itu ketika beberapa waktu yang lalu kami diberitahu bahwa ada buku yang terbit dalam bahasa Madura, kami tidak segera menyambutnya dengan menyediakan Hadiah Sastra Rancage buat pengarang dalam bahasa Madura. Kami khawatir terjadi lagi apa yang sudah terjadi dengan bahasa Lampung.
(Petikan Keputusan Hadiah Sastra Rancage 2009 yang ditandatangani Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi).
Dan, lonceng kematian (semoga sementara) itu berbunyi: Hadiah Sastra Rancage 2009 untuk Lampung tidak diberikan kepada pengarang Lampung. Saya sungguh terpukul dengan kabar buruk ini. Dalam bahasa Irfan Anshory, ulun Lampung yang kini tinggal di Bandung, "Malu kita!"
Untungnya Sekretaris Yayasan Kebudayaan Rancage sedikit memberikan hiburan dengan mengatakan, jika ada terbitan buku sastra berbahasa Lampung terbit 2008, bisa diikutkan Rancage 2010. Dia berharap kesalahan teknis ini tidak mengganggu kontinuitas penerbitan sastra Lampung.
Lalu, saya pun tenggelam dalam dunia idealisasi bagaimana seharusnya mengembangkan sastra berbahasa Lampung. Buku Mak Dawah Mak Dibingi (BE Press, 2007) dan Hadiah Sastra Rancage 2008 sebenarnya hanyalah pintu masuk saja bagi sebuah upaya memperjuangkan keberadaan bahasa dan sastra Lampung. Setelah ini, para seniman (sastrawan) Lampung dalam arti sastrawan yang menggunakan bahasa Lampung sebagai media kreativitasnya, harus tetap berupaya melahirkan karya-karya sastra berbahasa Lampung. Minimal dua dalam setahun.
Saya sangat berharap setelah Hadiah Sastra Rancage 2008 diberikan kepada sastra Lampung, kehidupan sastra berbahasa Lampung semakin bertambah dinamis. Paling tidak, ada semacam kebangkitan sastra berbahasa Lampung seiring dengan tumbuhnya "kepercayaan diri" penutur bahasa Lampung bahwa ternyata bahasa Lampung bisa bergaya, bahasa Lampung bisa berdaya, dan bahasa Lampung bisa modern. Bahwa bahasa Lampung bisa menjadi media ekspresi imajinatif-kreatif, sehingga bisa melahirkan karya sastra sebagaimana bahasa-sastra Sunda, Jawa, dan Bali.
Sejak awal--katakanlah semenjak terbitnya buku puisi dwibahasa Lampung-Indonesia, Momentum (2002)--sebenarnya saya mengajak orang Lampung untuk menulis sastra dalam bahasa ibunya: bahasa Lampung. Tapi, betapa sulitnya karena kebanyakan orang Lampung (bersuku Lampung), terutama kaum muda justru sulit berbicara bahasa Lampung. Berbicara saja susah, apalagi hendak menjadi penulis sastra berbahasa Lampung.
Yang terjadi kemudian adalah betapa orang Lampung semakin gencar mementaskan sastra (tradisi) lisan Lampung. Berbagai proyek pun digelar semacam pelatihan sastra lisan Lampung. Saya sih setuju saja, tetapi saya hanya menyayangkan para seniman Lampung lebih asyik-masyuk dengan tradisi kelisanan itu. Ada juga yang mendokumentasikan sastra tradisi lisan itu dalam bentuk rekaman atau buku.
Namun, tradisi kepenulisan sastra berbahasa Lampung tak bergerak-gerak juga. Dengan latar itulah, saya menulis dengan bahasa Lampung. Setidaknya, ini sebuah upaya saja agar bahasa Lampung tak benar-benar terkubur.
Sebenarnya tidak ada kendala dalam menulis karya sastra Lampung. Masalahnya lebih terkait dengan masalah komitmen untuk--sebenar-benarnya--mengembangkan bahasa-sastra-budaya Lampung. Mana bisa membangun bahasa-sastra-budaya Lampung dengan sikap yang kelewat pragmatis, materialistis, serta penuh dengan perhitungan untung-rugi atau dengan mental "saya harus mendapatkan sesuatu kerja ini".
Wah, menerbitkan buku sastra berbahasa Lampung itu dijamin rugi. Tapi, dalam jangka panjang buku sastra Lampung itu mempunyai nilai strategis bagi perjalanan bahasa-budaya Lampung itu. Tapi, kebanyakan kita tidak mau berpikir ke arah sana.
Saya berharap bahasa Lampung tetap eksis, berkembang, dan mampu menjadi bahasa kreasi bagi penuturnya. Saya yakin bisa asal ada upaya yang sungguh-sungguh untuk menjaga, melestarikan, memberdayagunakan, dan membuat bahasa Lampung lebih bergengsi. Sebab, bahasa Lampung adalah penopang utama kebudayaan Lampung. Kalau bahasa Lampung punah jelas pula yang disebut kebudayaan Lampung kiamat.
Yayasan Kebudayaan Rancage memutuskan memberikan penghargaan kepada sastra Lampung tahun 2008 dengan harapan agar kehidupan sastra (berbahasa) Lampung menjadi lebih dinamis. Setelah Hadiah Sastra Rancage 2008 diberikan kepada Mak Dawah Mak Dibingi, tidak bisa tidak setiap tahun harus ada buku sastra Lampung yang masuk penilaian Rancage. Sebab, sejak 2008 Yayasan Kebudayaan Rancage akan rutin memberikan Hadiah Rancage untuk sastra empat bahasa Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung. Dengan kata lain, tidak ada pilihan lain, Lampung harus menerbitkan buku sasta Lampung minimal dua buku satu tahun. Tidak boleh putus.
Karena itu, pemda, penerbit buku, perguruan tinggi, usahawan, sastrawan, dan masyarakat Lampung harus benar-benar mau menyisihkan waktu, tenaga, dan dana untuk membangun tradisi baru bahasa dan sastra Lampung: menulis dan menerbitkan sastra Lampung!
Saya masih berharap masih ada "orang gila" dalam arti mau menerbitkan buku sastra Lampung dengan segala risikonya. Saya tengah menanti!
Udo Z. Karzi, bukunya Mak Dawah Mak Dibingi (2007) menerima Hadiah Rancage 2008
Kamis, 05 Februari 2009
Rancage 2009 untuk Lampung Ditiadakan
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Hadiah Sastra Rancage 2009 tidak diberikan kepada penulis sastra bahasa Lampung. Pasalnya selama 2008 tidak ada buku sastra berbahasa Lampung yang yang diterbitkan.
"Batas penjurian, 25 Januari lalu, panitia tidak menerima buku sastra dari Lampung. Para juri tidak bisa menunggu lebih dari 25 Januari sehingga beranggapan tidak ada buku sastra berbahasa Lampung," kata Sekretaris Yayasan Kebudayaan Rancage Hawe Setiawan, yang dihubungi melalui telepon , kemarin (3-2).
Menurut Hawe, jika memang ada karya sastra berbahasa Lampung yang diterbitkan pada 2008, akan diikutkan penjurian Hadiah Sastra Rancage tahun 2010.
Hawe berharap kesalahan teknis ini tidak mengganggu kontinuitas penerbitan sastra Lampung. "Sangat disayangkan tidak ada penulis Lampung yang mendapat Hadiah Sastra Rancage 2009," kata dia.
Tahun sebelumnya, Yayasan Kebudayaan Rancage menganugerahkan Hadiah Sastra Rancage kepada sastrawan Lampung Udo Z. Karzi. Udo mendapat Hadiah Sastra Rancage 2008 atas kumpulan sajaknya, Mak Dawah Mak Dibingi (BE Press, 2007).
Disesalkan
Budayawan Lampung Irfan Anshory menyesalkan terjadinya kesalahan teknis dalam pengiriman karya sastra Lampung ke panitia Hadiah Sastra Rancage. Kesalahan teknis tersebut mengakibatkan lepasnya Hadiah Sastra Rancage dari Lampung.
Menurut Irfan, ada dua karya sastra berbahasa Lampung yang terbit tahun 2008, yaitu kumpulan cerita pendek berjudul Cerita-Cerita jak Bandar Negeri Semuong karya Asarpin Aslami dan kumpulan sajak berjudul Di Lawok Nyak Nelepon Pelabuhan karya Oky Sanjaya.
Irfan mengatakan agar kesalahan teknis tidak terulang tahun depan, penerbit jangan sampai terlambat menerbitkan buku sastra Lampung.
Penerbitan buku harus dilakukan sebelum 31 Januari karena pada tanggal tersebut sudah diumumkan peraih Hadiah Sastra Rancage oleh Yayasan Kebudayaan Rancage. "Penerbit juga jangan sampai terlambat mengirimkan karya sastra ke juri Hadiah Sastra Rancage," kata Irfan.
Irfan berharap Hadiah Sastra Rancage tahun 2010 dapat kembali diraih sastrawan Lampung.
Peraih Rancage 2009
Hadiah Sastra Rancage 2009 adalah ke-21 kali penghargaan itu diberikan. Pertama kali diberikan tahun 1989, khusus kepada sastrawan yang menulis dalam bahasa Sunda.
Tetapi, sejak 1994 para sastrawan yang menulis dalam bahasa Jawa juga mendapat Hadiah Sastra Rancage. Dan sejak 1997, para sastrawan yang menulis dalam bahasa Bali. Tahun 2008 sastrawan yang menulis dalam bahasa Lampung juga mendapatkan Hadiah Sastra Rancage.
Penerima Hadiah Sastra Rancage 2009 sastrawan dan tokoh atau lembaga yang dianggap besar jasanya dalam memelihara dan mengembangkan bahasa ibu. Mereka adalah Etti R.S. dengan buku kumpulan sajak Serat Panineungan (untuk karya dalam bahasa Sunda) dan Nano S. atas jasanya mengembangkan bahasa Sunda, terutama melalui lagu-lagu karawitan ciptaannya.
Kemudian S. Danusubroto dengan buku roman berjudul Trah (untuk bahasa Jawa). Sedangkan tokohnya, Sunarko Budiman, penulis dan pengelola Sanggar Sastra Jawa Triwida.
Untuk sastra bahasa Bali, Hadiah Sastra Rancage diberikan kepada I Nyoman Tusthi Eddy atas buku kumpulan sajak berjudul Somah. Sedangkan yang terpilih untuk diberi Hadiah Sastra Rancage 2009 untuk jasa dalam bahasa dan sastra Bali adalah I Nengah Tinggen, penyusun buku pedoman pemakaian aksara Bali dan telah menulis 40 judul buku dalam bahasa Bali.
Khusus untuk bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda, Yayasan Kebudayaan Rancage memberikan Hadiah Samsudi 2009 kepada Aan Merdeka Permana yang menulis buku Sasakala Bojongemas.
Setiap penerima Hadiah Sastra Rancage selain mendapat piagam juga uang Rp5 juta. Sedangkan Hadiah Samsudi berupa piagam dan uang Rp2,5 juta. Penyerahan hadiah dilaksanakan dalam suatu upacara khusus yang akan diselenggarakan di Jakarta. Tempat dan waktunya akan ditetapkan kemudian. n PADLI RAMDAN/K-1
Sumber: Lampung Post, Rabu, 4 Februari 2009
"Batas penjurian, 25 Januari lalu, panitia tidak menerima buku sastra dari Lampung. Para juri tidak bisa menunggu lebih dari 25 Januari sehingga beranggapan tidak ada buku sastra berbahasa Lampung," kata Sekretaris Yayasan Kebudayaan Rancage Hawe Setiawan, yang dihubungi melalui telepon , kemarin (3-2).
Menurut Hawe, jika memang ada karya sastra berbahasa Lampung yang diterbitkan pada 2008, akan diikutkan penjurian Hadiah Sastra Rancage tahun 2010.
Hawe berharap kesalahan teknis ini tidak mengganggu kontinuitas penerbitan sastra Lampung. "Sangat disayangkan tidak ada penulis Lampung yang mendapat Hadiah Sastra Rancage 2009," kata dia.
Tahun sebelumnya, Yayasan Kebudayaan Rancage menganugerahkan Hadiah Sastra Rancage kepada sastrawan Lampung Udo Z. Karzi. Udo mendapat Hadiah Sastra Rancage 2008 atas kumpulan sajaknya, Mak Dawah Mak Dibingi (BE Press, 2007).
Disesalkan
Budayawan Lampung Irfan Anshory menyesalkan terjadinya kesalahan teknis dalam pengiriman karya sastra Lampung ke panitia Hadiah Sastra Rancage. Kesalahan teknis tersebut mengakibatkan lepasnya Hadiah Sastra Rancage dari Lampung.
Menurut Irfan, ada dua karya sastra berbahasa Lampung yang terbit tahun 2008, yaitu kumpulan cerita pendek berjudul Cerita-Cerita jak Bandar Negeri Semuong karya Asarpin Aslami dan kumpulan sajak berjudul Di Lawok Nyak Nelepon Pelabuhan karya Oky Sanjaya.
Irfan mengatakan agar kesalahan teknis tidak terulang tahun depan, penerbit jangan sampai terlambat menerbitkan buku sastra Lampung.
Penerbitan buku harus dilakukan sebelum 31 Januari karena pada tanggal tersebut sudah diumumkan peraih Hadiah Sastra Rancage oleh Yayasan Kebudayaan Rancage. "Penerbit juga jangan sampai terlambat mengirimkan karya sastra ke juri Hadiah Sastra Rancage," kata Irfan.
Irfan berharap Hadiah Sastra Rancage tahun 2010 dapat kembali diraih sastrawan Lampung.
Peraih Rancage 2009
Hadiah Sastra Rancage 2009 adalah ke-21 kali penghargaan itu diberikan. Pertama kali diberikan tahun 1989, khusus kepada sastrawan yang menulis dalam bahasa Sunda.
Tetapi, sejak 1994 para sastrawan yang menulis dalam bahasa Jawa juga mendapat Hadiah Sastra Rancage. Dan sejak 1997, para sastrawan yang menulis dalam bahasa Bali. Tahun 2008 sastrawan yang menulis dalam bahasa Lampung juga mendapatkan Hadiah Sastra Rancage.
Penerima Hadiah Sastra Rancage 2009 sastrawan dan tokoh atau lembaga yang dianggap besar jasanya dalam memelihara dan mengembangkan bahasa ibu. Mereka adalah Etti R.S. dengan buku kumpulan sajak Serat Panineungan (untuk karya dalam bahasa Sunda) dan Nano S. atas jasanya mengembangkan bahasa Sunda, terutama melalui lagu-lagu karawitan ciptaannya.
Kemudian S. Danusubroto dengan buku roman berjudul Trah (untuk bahasa Jawa). Sedangkan tokohnya, Sunarko Budiman, penulis dan pengelola Sanggar Sastra Jawa Triwida.
Untuk sastra bahasa Bali, Hadiah Sastra Rancage diberikan kepada I Nyoman Tusthi Eddy atas buku kumpulan sajak berjudul Somah. Sedangkan yang terpilih untuk diberi Hadiah Sastra Rancage 2009 untuk jasa dalam bahasa dan sastra Bali adalah I Nengah Tinggen, penyusun buku pedoman pemakaian aksara Bali dan telah menulis 40 judul buku dalam bahasa Bali.
Khusus untuk bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda, Yayasan Kebudayaan Rancage memberikan Hadiah Samsudi 2009 kepada Aan Merdeka Permana yang menulis buku Sasakala Bojongemas.
Setiap penerima Hadiah Sastra Rancage selain mendapat piagam juga uang Rp5 juta. Sedangkan Hadiah Samsudi berupa piagam dan uang Rp2,5 juta. Penyerahan hadiah dilaksanakan dalam suatu upacara khusus yang akan diselenggarakan di Jakarta. Tempat dan waktunya akan ditetapkan kemudian. n PADLI RAMDAN/K-1
Sumber: Lampung Post, Rabu, 4 Februari 2009
Selasa, 03 Februari 2009
Kebuayan Lampung
YAYASAN SEKOLAH KEBUDAYAAN LAMPUNG (SKL)
Sebagai Upaya Pembelajaran Kebudayaan Lampung di Lingkungan Sekolah dan Universitas
KELOMPOK BELAJAR KEBUDAYAAN (kebuayan) LAMPUNG
Kekayaaan kebudayaan Lampung merupakan kekayaan nusantara yang perlu di jaga. Penjagaan tersebut bisa berupa pelestarian kebudayaan, pendidikan, pengembangan, dan inovasi, secara terarah dan berkesinambungan yang perlu mendapat perhatian serius baik dari kalangan pecinta kebudayaan, lembaga-lembaga pendidikan, dan para birokrat kebudayaan. Dari sisi politik kebudayaan Lampung memberikan kedudukan penting bagi siapa saja yang terlibat di dalamnya. Nilai-nilai budaya telah membentuk watak suatu bangsa yang pada akhirnya akan menjadi identitas kemasyuran di zaman yang akan datang. Kedudukan yang tinggi itu apabila nilai-nilai modrenisasi yang secara konsumtif kita terima mendapatkan penjelmaan kebudayaan tradisi di dalamnya.
Kekakuan yang menjadi ranah permasalahan utama dari pengembangan kebudayaan Lampung terutama Bahasa Lampung, akan dapat di atasi apabila kebudayaan Lampung, khususnya Bahasa Lampung, mampu bergaul dengan bahasa-bahasa daerah lain yang telah memasyarakat di Lampung. Komunikasi aktif tersebut sejalan dengan diterimanya kebudayaan Lampung oleh kebudayaan lainnya yang telah beranak-pinak di Lampung. Upaya awal yang dapat dilakukan di antaranya adalah mendirikan semacam kelompok kebudayaan yang memfokuskan diri ke arah “bersilaturahmi ke kebudayaan Lampung”. Meski telah bediri beberapa kelompok kebudayaan di daerah ini, sejauh ini kelompok-kelompok tersebut belum memperlihatkan perannya yang strategis dalam pelestarian, pendidikan , pengembangan, dan inovasi budaya.
Upaya yang dapat dilakukan di antaranya adalah memperkenalkan budaya Lampung dengan menggunakan bahasa-bahasa yang memasyarakat di Lampung. Dengan demikian, terjadi barter budaya, yaitu perkenalan bahasa. Kegiatan nyata yang dapat dilakukan adalah melakukan penerbitan koran budaya multi bahasa setiap minggunya. Atau pun bisa dilakukan dengan membuat buletin multi bahasa setiap bulannya. Di dalam koran atau buletin tersebut berisikan nilai-nilai kebudayaan Lampung sehingga diharapkan ada simpati masyarakat selain Lampung untuk mempelajari Budaya Lampung. Hal tersebut sejalan dengan tidak memungkinkan memasyarakatnya Bahasa Lampung di pasar ataupun di lingkungan pemerintah daerah karena sebagaian besar bukan orang Lampung. Untuk itu, lingkungan kampus sebagai lingkungan pendidikan dapat memulai upaya pemasyarakatan Bahasa Lampung dengan berbagai cara yang salah satunya seperti yang telah kami contohkan.
Di lain sisi, kampus memiliki peranan yang strategis dalam melakukan pelestarian, pengembangan, inovasi, dan ‘pengawetan’ kebudayaan Lampung sebagai akibat dari sistem pendidikan yang terus berkembang ke arah nilai-nilai ekonomis dan praktis, yang secara tidak langsung berupaya menghilangkan keluhuran budaya tradisi Perlu adanya lembaga kemahasiswaan (LK) yang fokus dalam upaya-upaya tersebut.
Dari lembaga kemahasiswaan yang telah terbentuk, diharapkan telah terjalin hubungan yang baik dengan lembaga-lembaga kebudayaan di luar kampus, Kantor Bahasa Provinsi Lampung, lembaga kemahasiswaan bidang seni baik di dalam maupun di luar kampus.
Hubungan yang baik juga perlu terjalin dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Lampung setiap kabupaten dan kota yang ada di Lampung. Seperti yang kita ketahui, kurikulum pendidikan 2006 mengharapkan pembelajaran yang diberikan pada setiap satuan pendidikan ke arah pendekatan kontekstual. Dengan demikian, ada hubungan yang sinergis antara lembaga-lembaga kebudayaan dengan MGMP Bahasa Lampung dalam upaya-upaya kedua belah pihak.
Kelompok Belajar Kebudayaan Lampung (kebuayan) Lampung SKL, menempatkan dirinya sebagai mitra pemerintah dalam memperlancar program-program yang berkait dengan pendidikan dan kebudayaan bahkan sampai pada ‘pasar pariwisata Lampung’.
Sebagai Upaya Pembelajaran Kebudayaan Lampung di Lingkungan Sekolah dan Universitas
KELOMPOK BELAJAR KEBUDAYAAN (kebuayan) LAMPUNG
Kekayaaan kebudayaan Lampung merupakan kekayaan nusantara yang perlu di jaga. Penjagaan tersebut bisa berupa pelestarian kebudayaan, pendidikan, pengembangan, dan inovasi, secara terarah dan berkesinambungan yang perlu mendapat perhatian serius baik dari kalangan pecinta kebudayaan, lembaga-lembaga pendidikan, dan para birokrat kebudayaan. Dari sisi politik kebudayaan Lampung memberikan kedudukan penting bagi siapa saja yang terlibat di dalamnya. Nilai-nilai budaya telah membentuk watak suatu bangsa yang pada akhirnya akan menjadi identitas kemasyuran di zaman yang akan datang. Kedudukan yang tinggi itu apabila nilai-nilai modrenisasi yang secara konsumtif kita terima mendapatkan penjelmaan kebudayaan tradisi di dalamnya.
Kekakuan yang menjadi ranah permasalahan utama dari pengembangan kebudayaan Lampung terutama Bahasa Lampung, akan dapat di atasi apabila kebudayaan Lampung, khususnya Bahasa Lampung, mampu bergaul dengan bahasa-bahasa daerah lain yang telah memasyarakat di Lampung. Komunikasi aktif tersebut sejalan dengan diterimanya kebudayaan Lampung oleh kebudayaan lainnya yang telah beranak-pinak di Lampung. Upaya awal yang dapat dilakukan di antaranya adalah mendirikan semacam kelompok kebudayaan yang memfokuskan diri ke arah “bersilaturahmi ke kebudayaan Lampung”. Meski telah bediri beberapa kelompok kebudayaan di daerah ini, sejauh ini kelompok-kelompok tersebut belum memperlihatkan perannya yang strategis dalam pelestarian, pendidikan , pengembangan, dan inovasi budaya.
Upaya yang dapat dilakukan di antaranya adalah memperkenalkan budaya Lampung dengan menggunakan bahasa-bahasa yang memasyarakat di Lampung. Dengan demikian, terjadi barter budaya, yaitu perkenalan bahasa. Kegiatan nyata yang dapat dilakukan adalah melakukan penerbitan koran budaya multi bahasa setiap minggunya. Atau pun bisa dilakukan dengan membuat buletin multi bahasa setiap bulannya. Di dalam koran atau buletin tersebut berisikan nilai-nilai kebudayaan Lampung sehingga diharapkan ada simpati masyarakat selain Lampung untuk mempelajari Budaya Lampung. Hal tersebut sejalan dengan tidak memungkinkan memasyarakatnya Bahasa Lampung di pasar ataupun di lingkungan pemerintah daerah karena sebagaian besar bukan orang Lampung. Untuk itu, lingkungan kampus sebagai lingkungan pendidikan dapat memulai upaya pemasyarakatan Bahasa Lampung dengan berbagai cara yang salah satunya seperti yang telah kami contohkan.
Di lain sisi, kampus memiliki peranan yang strategis dalam melakukan pelestarian, pengembangan, inovasi, dan ‘pengawetan’ kebudayaan Lampung sebagai akibat dari sistem pendidikan yang terus berkembang ke arah nilai-nilai ekonomis dan praktis, yang secara tidak langsung berupaya menghilangkan keluhuran budaya tradisi Perlu adanya lembaga kemahasiswaan (LK) yang fokus dalam upaya-upaya tersebut.
Dari lembaga kemahasiswaan yang telah terbentuk, diharapkan telah terjalin hubungan yang baik dengan lembaga-lembaga kebudayaan di luar kampus, Kantor Bahasa Provinsi Lampung, lembaga kemahasiswaan bidang seni baik di dalam maupun di luar kampus.
Hubungan yang baik juga perlu terjalin dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Lampung setiap kabupaten dan kota yang ada di Lampung. Seperti yang kita ketahui, kurikulum pendidikan 2006 mengharapkan pembelajaran yang diberikan pada setiap satuan pendidikan ke arah pendekatan kontekstual. Dengan demikian, ada hubungan yang sinergis antara lembaga-lembaga kebudayaan dengan MGMP Bahasa Lampung dalam upaya-upaya kedua belah pihak.
Kelompok Belajar Kebudayaan Lampung (kebuayan) Lampung SKL, menempatkan dirinya sebagai mitra pemerintah dalam memperlancar program-program yang berkait dengan pendidikan dan kebudayaan bahkan sampai pada ‘pasar pariwisata Lampung’.
Oky Sanjaya
Langganan:
Postingan (Atom)





